Searching...


muchimin

Orang Jawa yang dikenal sebagai masyarakat berbudaya tinggi hendaknya kembali membangun citra. Etos kerja masyarakat Jawa, yakni sepi ing pamrih dan rame ing gawe merupakan dasar bagi manusia untuk memperindah dan menghias dunia, atau sering disebut Memayu Hayuning Bawono.
Sikap memayu hayuning bawono ini berarti memberikan kontribusi menyelamatkan dunia. "Sikap sepi ing pamrih merupakan kombinasi suatu kemantapan hati yang tenang, kebebasan dari kekhawatiran diri, dan kerelaan diri untuk membatasi diri pada peran di dunia yang telah ditentukan,"
Untuk bisa mencapai sepi ing pamrih, manusia harus eling (ingat), waspada, pracaya (mempercayakan diri pada Yang Illahi), dan mituhu (percaya kepadaNya). Hal itu berjalan seiring dengan rame ing gawe, yaitu suatu sikap memenuhi kewajiban dengan tenang dan setia.

25 Februari 2013

Pujian (Filosofi Nyamuk)

Senin, Februari 25, 2013
"" Seperti yang dialami oleh seekor anak nyamuk yang sedang belajar terbang kemudian merasa telah mendapakan banyak sekali tepuk tangan dari manusia. Ketika ditanyai oleh ibunya bagaimana rasanya bisa terbang, dengan santai dan bangga anak nyamuk tersebut menjawab bahwa di sangat senang sekali bisa terbang dan melalang buana... ""

Pujian


TIDAK selamanya pujian dari seseorang atau banyak orang itu berarti memberikan penghargaan. Tapi bisa jadi pujian tersebut merupakan sebuah ancaman kepada kita bahwa kita harus terus menjadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Apalagi jika kita salah memaknai pujian sehingga kita malah menyombongkan diri, hal ini malah akan membuat kita lupa bahwa kita harus selalu introspeksi dan tidak terlena dengan pujian yang diberikan orang lain terhadap kita.

Pujian dari orang lain itu bisa jadi merupakan ujian yang harus kita taklukkan. Inilah mengapa kita harus pandai memaknai pujian yang diberikan oleh orang. Maka jangan terlena dengan pujian yagn diberikan orang lain kepada kita.
Sumber gambar : http://rizkybudiati.tumblr[dot]com
"Kalau ada yang menghina Anda, anggap aja sebagai sebuah pujian bahwa dia berjam-jam memikirkan anda, sedangkan Anda tidak sedetik pun memikirkan dia."
Seperti yang dialami oleh seekor anak nyamuk yang sedang belajar terbang kemudian merasa telah mendapakan banyak sekali tepuk tangan dari manusia. Ketika ditanyai oleh ibunya bagaimana rasanya bisa terbang, dengan santai dan bangga anak nyamuk tersebut menjawab bahwa di sangat senang sekali bisa terbang dan melalang buana walaupun hanya disekitarnya saja, dan ia bisa menghindar dari cicak yang sedang kelaparan.

Kemudian ibu si anak nyamuk bertanya lagi, perasaan apa lagi yang didapatkan anaknya tersebut? Dengan santai pula dan penuh bangga anak nyamuk menjawab sangat bangga karena setiap kali dia lewat di depan manusia, manusia tersebut memberikan tepuk tangan, dianggapnya manusia kagum pada kemampuan terbangnya.

Dengan sangat percaya diri anak nyak ini menganggap bahwa ancaman yang sedang berada di depan matanya dianggap sebagai pujian kekaguman atas kemampuan terbangnya. Dia mengira bahwa manusia sedang terkagum-kagum padahal sebenarnya manusia sedang benci sekali terhadap dirinya. Sungguh malang nasib anak nyamuk yang belum sadar bahwa itu adalah ancaman.

Tentu saja penulis blog ini tak ingin seperti si anak nyamuk yang bangga ketika mendapatkan pujian yang sebenarnya adalah ancaman karena tidak menyadarinya. Semakin dipuji malah semakin membanggakan diri yang akhirnya akan melahirkan kesombongan.

untuk itu, penulis selalu berusaha mengintrospeksi berulang kali atas prestasi yagn telah penulis raih. Sudah barang tentu ini penulis lakukan agar tidak terjerumus pada tinggi hati yang membahayakan. Penulis selalu berusaha menyadari bahwa pujian tidak selamanya adalah anugerah tetapi juga bisa menjadi ancaman yang sebenarnya. Pujian bisa menjadi ujian apakah kita berhak atas prestasi kita atau tidak.

Penulis bertekad untuk terus memperbaiki diri. Dan yang paling penting, penulis tidak ingin sampai terlena dengan pujian yang diberikan.

Semoga doa dan dukungan sahabat semua selalu menyertai perjalanan penulis.
(peting.kradenan)

Album Foto Peting-Kradenan:

Bagikan artikel:






Pujian (Filosofi Nyamuk)
Judul :Pujian (Filosofi Nyamuk)
Deskripsi : Pujian, TIDAK selamanya pujian dari seseorang atau banyak orang itu berarti memberikan penghargaan, Baca selengkapnya..
Rating : 5.0 stars based on 910 reviews
Silahkan bagikan artikel tentang Pujian (Filosofi Nyamuk) ini kepada teman-teman anda dengan meng-KLIK tombol dibawah ini. Jangan Lupa berikan komentar anda !, komentar anda akan sangat membatu untuk kemajuan dan kelangsungan blog ini Terimakasih !
DMCA.com Protection Status
  • ARTIKEL TERKAIT
  • KOMENTAR BLOGGER 1
  • KOMENTAR FACEBOOK
  • DONASI

1 comments:

Silahkan Tinggalkan PESAN dan KESAN sahabat setelah membaca Artikel ini >>
1. LINK AKTIF tidak diperbolehkan di komentar ini.
2. Mari berbagi, berdiskusi dengan berkomentar yang efektif dan membangun
3. Berkomentar hari ini, maka hari itu juga saya akan berkunjung ke Blog sahabat



Filsafah Jika seseorang hidup dengan lurus dan benar, meskipun ia mencari nafkah dengan susah payah, merawat kehidupan keluarganya dengan sederhana, dan ia masih tetap menyisihkan sebagian hartanya, yang sangat terbatas itu untuk ia danakan, maka, kemurahan hatinya sungguh jauh lebih besar, dari pada seribu pengorbanan yang lain. Donasi anda sangat membantu dalam pengembangan Blog ini Terimakasih No. Rek BRI : 723901000238502 - M. Muchimin
Apakah artikel dalam blog ini akurat dan dapat dipertanggung jawabkan?
Mohon maaf, blog merupakan sarana untuk bertukar informasi, bertukar opini dan bahkan sarana untuk menulis buku harian.
Saya tak menjamin keakuratan informasi dalam blog ini karena sebagian artikel merupakan pendapat saya pribadi, pengalaman saya dan hal-hal lain yang tak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.
Hendaknya anda jangan menjadikan blog ini sebagai acuan sumber informasi akurat anda, blog ini berisi artikel yang berupa opini yang belum tentu kebenarannya.