Langsung ke konten utama

Pujian (Filosofi Nyamuk)

"" Seperti yang dialami oleh seekor anak nyamuk yang sedang belajar terbang kemudian merasa telah mendapakan banyak sekali tepuk tangan dari manusia. Ketika ditanyai oleh ibunya bagaimana rasanya bisa terbang, dengan santai dan bangga anak nyamuk tersebut menjawab bahwa di sangat senang sekali bisa terbang dan melalang buana... ""

Pujian


TIDAK selamanya pujian dari seseorang atau banyak orang itu berarti memberikan penghargaan. Tapi bisa jadi pujian tersebut merupakan sebuah ancaman kepada kita bahwa kita harus terus menjadi yang lebih baik dari waktu ke waktu. Apalagi jika kita salah memaknai pujian sehingga kita malah menyombongkan diri, hal ini malah akan membuat kita lupa bahwa kita harus selalu introspeksi dan tidak terlena dengan pujian yang diberikan orang lain terhadap kita.

Pujian dari orang lain itu bisa jadi merupakan ujian yang harus kita taklukkan. Inilah mengapa kita harus pandai memaknai pujian yang diberikan oleh orang. Maka jangan terlena dengan pujian yagn diberikan orang lain kepada kita.
Sumber gambar : http://rizkybudiati.tumblr[dot]com
"Kalau ada yang menghina Anda, anggap aja sebagai sebuah pujian bahwa dia berjam-jam memikirkan anda, sedangkan Anda tidak sedetik pun memikirkan dia."
Seperti yang dialami oleh seekor anak nyamuk yang sedang belajar terbang kemudian merasa telah mendapakan banyak sekali tepuk tangan dari manusia. Ketika ditanyai oleh ibunya bagaimana rasanya bisa terbang, dengan santai dan bangga anak nyamuk tersebut menjawab bahwa di sangat senang sekali bisa terbang dan melalang buana walaupun hanya disekitarnya saja, dan ia bisa menghindar dari cicak yang sedang kelaparan.

Kemudian ibu si anak nyamuk bertanya lagi, perasaan apa lagi yang didapatkan anaknya tersebut? Dengan santai pula dan penuh bangga anak nyamuk menjawab sangat bangga karena setiap kali dia lewat di depan manusia, manusia tersebut memberikan tepuk tangan, dianggapnya manusia kagum pada kemampuan terbangnya.

Dengan sangat percaya diri anak nyak ini menganggap bahwa ancaman yang sedang berada di depan matanya dianggap sebagai pujian kekaguman atas kemampuan terbangnya. Dia mengira bahwa manusia sedang terkagum-kagum padahal sebenarnya manusia sedang benci sekali terhadap dirinya. Sungguh malang nasib anak nyamuk yang belum sadar bahwa itu adalah ancaman.

Tentu saja penulis blog ini tak ingin seperti si anak nyamuk yang bangga ketika mendapatkan pujian yang sebenarnya adalah ancaman karena tidak menyadarinya. Semakin dipuji malah semakin membanggakan diri yang akhirnya akan melahirkan kesombongan.

untuk itu, penulis selalu berusaha mengintrospeksi berulang kali atas prestasi yagn telah penulis raih. Sudah barang tentu ini penulis lakukan agar tidak terjerumus pada tinggi hati yang membahayakan. Penulis selalu berusaha menyadari bahwa pujian tidak selamanya adalah anugerah tetapi juga bisa menjadi ancaman yang sebenarnya. Pujian bisa menjadi ujian apakah kita berhak atas prestasi kita atau tidak.

Penulis bertekad untuk terus memperbaiki diri. Dan yang paling penting, penulis tidak ingin sampai terlena dengan pujian yang diberikan.

Semoga doa dan dukungan sahabat semua selalu menyertai perjalanan penulis.
(peting.kradenan)

Komentar

Posting Komentar

Silahkan Tinggalkan PESAN dan KESAN sahabat setelah membaca Artikel ini >>
1. LINK AKTIF tidak diperbolehkan di komentar ini.
2. Mari berbagi, berdiskusi dengan berkomentar yang efektif dan membangun
3. Berkomentar hari ini, maka hari itu juga saya akan berkunjung ke Blog sahabat

Postingan populer dari blog ini

Filsafat Huruf Jawa (Hanacaraka)

Makna dan Filsafat Huruf Jawa Ha-Na-Ca-Ra-Ka  berarti ada ” utusan ” yakni utusan hidup, berupa nafas yang berkewajiban menyatukan jiwa dengan jasat manusia. Maksudnya ada yang mempercayakan, ada yang dipercaya dan ada yang dipercaya untuk bekerja. Ketiga unsur itu adalah Tuhan, manusia dan kewajiban manusia ( sebagai ciptaan).• Da-Ta-Sa-Wa-La  berarti manusia setelah diciptakan sampai dengan data ” saatnya ( dipanggil ) ” tidak boleh sawala ” mengelak ” manusia ( dengan segala atributnya ) harus bersedia melaksanakan, menerima dan menjalankan kehendak Tuhan. Pa-Dha-Ja-Ya-Nya  berarti menyatunya zat pemberi hidup ( Ilahi) dengan yang diberi hidup ( makhluk ). Maksdunya padha ” sama ” atau sesuai, jumbuh, cocok ” tunggal batin yang tercermin dalam perbuatan berdasarkan keluhuran dan keutamaan. Jaya itu ” menang, unggul ” sungguh-sungguh dan bukan menang-menangan ” sekedar menang ” atau menang tidak sportif.• Ma-Ga-Ba-Tha-Nga  berarti menerima segala yang diperintahkan dan

Nafsu Birahi Anak Sekolah

Nafsu Birahi Anak Sekolah (Edukasi) Bila esok itu ada.. tetaplah kau disana.. dihari hari yang kujalani nanti. agar sepertinya kisah ini bukan seperti pelangi.. indah sesaat lalu pergi lagi… Namun setelah saat itu keindahannya tak kutemukan lagi kita semua tahu tak ada badai yang harus di halau,,, tak ada lubang yang harus tertutupi tak ada kekosongan yang harus di isi,,,  Semua sudah jelas tak ada lagi bait-bait yang meski du untai dalam sebuah kisah karena kau, aku dia tahu semua telah berakhir…. Source Ok sahabat, terimakasih sebelumnya sudah mampir di Kradenan . Dengan aktifitas yang sangat padat saya ' admin   berupaya untuk meluangkan sedikit waktunya untuk berbagi. Kali ini mungkin agak berbeda dengan apa yang sebelumnya pernah  ' admin   postingkan. Sudah merupakan bukan rahasia umum lagi dengan kisah-kisah yang tak tabu lagi, yang banyak dialami saudara-saudara di sekitar kita. Tulisan ini diawali dengan kisah nyata: Sebu

Filosofi Kupu-Kupu

Ilmuwan paling terkemuka abad-20, Albert Eisntein mengatakan, "Hanya orang-orang gila yang mengharapkan hasil berbeda tetapi menggunakan cara-cara yang sama." Filsafat Kupu-Kupu Kami belajar pada kupu-kupu. Bukankah kupu-kupu terlihat elok rupawan dan memukau banyak mata? Padahal, awalnya dia hanya seekor ulat yang menjijikkan. Tapi setelah ia berubah rupa menjadi kupu-kupu yang cantik, siapa yang tidak suka melihatnya? Sejarah hidup kupu-kupu Sebelum ia bersalin rupa menjadi elok dan cantik, ia telah melewati berbagai tahap kehidupan. Dulu, ia hanya seekor ulat yang buruk rupa, hidupnya merayap di dahan dan dedaunan, dan kalau tidak beruntung hidupnya berakhir di makan burung atau serangga pemangsanya. setelah matang menjalani kehidupan sebagai ulat, ia pun mencari tempat yang aman dan berubah menjadi kepompong. Badanya terbujur kaku menggantung di dahan dan dedaunan. Ia tak peduli walau siang hari panas terik menyengatnya, dan malam hari dingin menusuknya. B